Keseharianku Selama SMP

 Masa-masa sekolah adalah salah satu fase terpenting dalam kehidupan seseorang. Sekolah bukan hanya tentang pelajaran di kelas, tetapi juga tentang pengalaman, persahabatan, pembentukan karakter, dan penemuan jati diri. Selama tiga tahun di jenjang SMP, begitu banyak hal yang saya alami—dari saat pertama kali mengikuti MPLS hingga akhirnya menjadi siswa kelas 9 yang harus bersiap menghadapi kelulusan. Semua perjalanan itu memberi warna tersendiri dalam hidup saya.


Awal Langkah: Masa MPLS yang Penuh Warna

Semua berawal dari Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS). Sebagai siswa baru, tentu saja saya merasa gugup sekaligus bersemangat. Hari pertama saya mengenakan seragam SMP dengan bangga, membawa tas yang masih rapi dan penuh perlengkapan, serta hati yang penuh rasa penasaran.

MPLS menjadi ajang perkenalan, baik terhadap lingkungan sekolah maupun teman-teman baru. Kami memperkenalkan berbagai ruangan penting di sekolah, seperti ruang kelas, perpustakaan, laboratorium IPA, ruang komputer, ruang guru, UKS, kantin, dan musala. Dengan penjelasan yang diberikan oleh kakak OSIS, kami jadi lebih familiar dan tidak merasa asing.

Selain itu, kami juga dikenalkan dengan guru-guru yang akan mengajar kami selama tiga tahun ke depan. Guru-guru yang mengajar cukup berbeda dengan guru saat SD, saat SD setiap kelas biasanya hanya dibuka oleh 3 guru, 1 walikelas, 1 guru agama, dan 1 guru PJOK. Namun di SMP setiap mapel gurunya berbeda. Mengenal mereka sejak awal membuat kami merasa lebih dekat dan tidak canggung saat proses belajar nanti.

Yang paling menyenangkan saat MPLS tentu saja adalah sesi mini games yang dipandu OSIS. Kami bermain kelompok permainan, seperti estafet, tebak gambar, permainan logika, dan tantangan tim kerjasama. Suasana penuh tawa, kekompakan, dan keceriaan membuat suasana MPLS menjadi tak terlupakan. Selain itu, kami juga mendapatkan berbagai materi pengenalan sekolah, seperti visi-misi sekolah, tata tertib, pengenalan ekstrakurikuler, dan nilai-nilai karakter yang ditanamkan di sekolah.

Kami diperkenalkan berbagai ekstrakurikuler (ekskul), seperti Pramuka, Rohani Islam (Rohis), Paskibra, PMR, futsal, basket, Tapak Suci, Taekwondo, Karate, Tari tradisional, dan Rohkris dll. Dari dalamnya kami mulai mempertimbangkan kegiatan mana yang paling cocok dengan minat dan bakat kami. Saya pribadi memilih ekskul PMR dan Rohis, karena ingin belajar rasa peduli pada sesama sekaligus memperdalam keimanan.


Rutinitas Harian dan Pembiasaan yang Membentuk Karakter

Setelah masa MPLS selesai, kegiatan belajar pun dimulai. Namun, sekolah ini tidak hanya menekankan pelajaran di kelas. Ada berbagai kegiatan pembiasaan di jam ke-0 yang menjadi rutinitas setiap pagi dan bertujuan membentuk karakter siswa secara konsisten.


Hari Senin, kami mengikuti upacara bendera. Semua siswa berlari rapi di lapangan, menyanyikan lagu kebangsaan, dan mendengarkan amanat dari kepala sekolah atau guru piket. Meski harus berdiri di bawah matahari, upacara menjadi simbol kedisiplinan dan nasionalisme.

Hari Selasa, kami mengikuti literasi dan numerasi. Kami membaca buku non-pelajaran selama 15 menit, kemudian bernyanyi lagi wajib dan menyaksikan penampilan tiap kelas. Kegiatan ini mengembangkan kemampuan berpikir logistik dan minat baca siswa.

Hari Rabu, kami mengikuti Pramuka wajib. Menggunakan seragam cokelat khas Pramuka, kami belajar baris-berbaris, tali-temali, sandi-sandi, dan kegiatan lapangan lainnya. Pramuka melatih kami untuk tangguh, mandiri, dan mampu bekerja dalam waktu.

Hari Kamis, adalah hari makan sehat atau jalan sehat. Kami membawa bekal dari rumah dengan makanan bergizi dan saling berbagi inspirasi menu sehat. Kadang kami juga jalan sehat mengelilingi lingkungan sekolah sambil menikmati udara pagi.

Hari Jumat, kami menjalani kegiatan religi. Kami tadarus Al-Qur'an, mendengarkan kultum, dan berdoa bersama. Kegiatan ini membuat suasana hati tenang dan menumbuhkan keimanan sebelum memulai pelajaran.


Setelah kegiatan pembiasaan selesai, kami memulai pelajaran reguler. Biasanya ada dua atau tiga mata pelajaran sebelum istirahat pertama. Waktu istirahat pertama kami gunakan untuk ke kantin, ke toilet, atau sekadar bercanda dengan teman.

Pelajaran dilanjutkan hingga waktu istirahat kedua, yang dikenal juga dengan istilah ishoma (istirahat, sholat, makan). Kami menuju musala untuk sholat Dzuhur berjamaah, lalu makan siang. Ini adalah waktu paling nyaman karena bisa melepas penat sebelum masuk ke sesi pelajaran terakhir.

Setelah ishoma, pelajaran dilanjutkan hingga waktu pulang, yang berbeda-beda setiap hari:


Senin, Selasa, dan Kamis: pulang pukul 13.40

Rabu: pulang pukul 13.00, karena hanya setengah hari dan diawali Pramuka

Jumat: pulang pukul 12.00 untuk siswi perempuan, sedangkan siswa laki-laki melaksanakan salat Jumat terlebih dahulu di musala sekolah dan baru pulang setelah itu



Menjadi Siswa Kelas 9: Tanggung Jawab dan Persiapan Masa Depan

Waktu berlalu cepat, dan tiba-tiba saya sudah berada di kelas 9. Suasananya tentu berbeda. Kami mulai menyadari bahwa waktu kami di sekolah ini tidak lama lagi. Kelas 9 diisi dengan persiapan ujian akhir, try out, dan evaluasi akademik.

Guru-guru mulai lebih serius dan tegas. Kami juga sering mengikuti bimbingan belajar tambahan, baik di sekolah maupun di luar. Tapi pembiasaan dan kegiatan positif tetap berjalan seperti biasa. Bahkan, kegiatan-kegiatan itu menjadi semacam “penyeimbang” agar kita tidak jenuh.

Meski lebih sibuk, saya tetap berusaha menikmati waktu di sekolah. Momen-momen bersama teman, canda tawa di kelas, kelompok kerja, dan waktu istirahat menjadi hal yang sangat berharga. Kami sering mengabadikan momen bersama karena sadar, kebersamaan ini tidak akan terulang.


Penutup: Sekolah, Tempat Tumbuh dan Menemukan Jati Diri

Tiga tahun di sekolah ini bukan sekadar waktu yang berlalu begitu saja. Saya tidak hanya tumbuh secara akademik, tetapi juga secara pribadi. Dari anak baru yang pemalu saat MPLS, kini saya menjadi remaja yang lebih percaya diri, disiplin, dan bertanggung jawab.

Sekolah adalah tempat saya belajar banyak hal  bukan, hanya rumus dan teori, tapi juga tentang nilai kehidupan, seperti kerja sama, empati, tanggung jawab, dan kejujuran. Saya juga belajar mengenal diri sendiri: apa yang saya suka, apa yang saya mampu, dan apa yang ingin saya capai.

Perjalanan ini tentu akan saya kenang selamanya. Dan kelak, saat saya menatap ke belakang, saya akan tersenyum dan berkata: “Sekolah ini telah membentukku menjadi aku yang sekarang.”

Comments

Popular Posts