Gradasi Menakutkan
Karya: Yuanita D.A
Ada di pertama.
Sebuah anugerah, juga beban tak berperi.
Dipuji, ditanya, diragukan. Ah, sudah dirasa olehnya.
Hanya dua pilihan: bertahan, atau luruh ke dalam malu.
Ketika situasi kembali didekati.
Sesosok ngeri ikut membayang.
Dia datang laksana vonis surga atau neraka.
Padahal, diri ini sudah lama berdamai.
Bisik-bisik takut masuk paksa ke dalam jiwa terdalam.
Insan-insan yang ragu datang, menyuguhkan gelas penuh keraguan ke dalam sanubarinya.
Bagai menohok jiwa, menjelma sebagai gangguan paling abadi.
Saat nama terukir di puncak.
Ada yang senang, ada juga yang benci.
Padahal itu takdir dan usahanya.
Begitu penentuan kembali.
Dirinya turun, banyak yang naik menanjak, melampaui.
"Tak mengapa sebenarnya." Ia membagikannya.
Namun banyak mata yang seolah-olah menganggap dirinya lebur seutuhnya.
Mengerikan, belum lagi bayang ekspektasi yang lebih besar menanti.
Dukungan mungkin akan menghampiri.
Tapi kekeecewaan pun tak luput ikut datang.
Hanya bisa melakukan apa yang bisa dilakukan.
Takut, kesal, sedih.
Semuanya tercampur, melebur bagai gradasi warna, terlihat tercampur namun sebenarnya terpisah juga.
Sesuatu yang mengerikan itu, semoga segera pergi.
Dirinya ingin kembali bersantai ria, menikmati hidup yang tak sempurna.
Semuanya tercampur melebur bagai gradasi warna, terlihat tercampur namun sebenarnya terpisah juga.
Sesuatu yang mengerikan itu, semoga segera pergi.
Dirinya ingin kembali bersantai ria, menikmati hidup yang tak sempurna.
Comments
Post a Comment